Selasa, 04 November 2014

Akukah Pilihanmu..?

Depok,11 Juni 2005
Jatuh cinta,cintanya sih emang indah,tapi kalo jatuhnya,sakit rasanya jika kita gagal,gagal dalam cinta atau dalam mengexpresikan cinta.Huh,makhluq itu buat aku teruus mikirin dia.Padahal dia ga ada di dekatku,karna sekarang aku telah berada di rumah.Di kamar sederhanaku ini,adalah tempat dia sering mejeng di pelupuk mataku,berkali kali kupejamkan mata dengan harap dia tlah pergi.Tapi,harapanku selalu gagal terwujud.Aku sebal memikirkan dia tapi aku tak ingin beranjak dari kamarku ketika ia menggelayuti fikiranku.
Saat liburan dari ponpes ini,tak ada lagi adegan adegan aku ketika berpapasan dengan dia sepulang ngaji balagan,Tak ada lagi sorak sorai,”Ceilee,,Ramdan,,si cintanya lagi baca tuh..”dari teman sekelas santri putra putri ketika kebetulan aku ditunjuk untuk praktek membaca kitab kuning gundul di depan teman teman sekelas.Aku jadi merindukan saat saat seperti itu lagi.
Huuh..saat hati lagi semerawut gini , kadang terfikir tuk menuruti bisikan syetan dengan melanggar peraturan,bersenang senang bercinta dengan Ramdan.Jika ketauan keamanan pondok,aku sah kena ta’ziran,yaitu,di botak asal asalan di depan semua santri,jika yang di ta’zir nya putra,dan jika putri,ta’zirannya adalah menapi  50kg beras di kantin putra.Sungguh memalukan,tapi,menurut pendapat sebagian teman temanku yang pernah mengalami,itu adalah suatu kebanggaan dan bukti dari pengorbanan cinta mereka.Dan aku,tak sependapat dengan mereka.
Lamunanku terhenti ketika ponselku  berdering, “private number”  .Awalnya aku ragu untuk mengangkatnya tapi…”Assalamu’alaikum” ujarku berucap salam,membuat yang di sebrang sana wajib membalas.
“wa’alaikumussalam wr. wb” jawab yang di sebrang
Aku sedikit  terhenyak karna suara orang yang menelponku itu bukanlah suara seorang wanita, “ni siapa?”tanyaku agak gemetar.
“Qolby,,kamu pasti kenal aku,I do miss u,ana musytaq jiddan ilaik”jawab yang disana,membuat aku gemetar,aku kaget bukan kepalang.Ramdan,ya, itu Ramdan,kenapa dia senekat ini,padahal dia bukan anak yang termasuk dalam daftar buku hitam pondok.Aku tak bisa terima telfon dia.Lalu aku segera putuskan sambungan telfonnya.Entah karna penasaran atau apa,Ramdan kembali nelpon,berkali kali,tapi aku reject berkali kali juga.Aku melirik layar poselku. ’27 missed calls’.
                Aku masih duduk mematung di sisi ranjangku,Ramdan tak mencoba hubungi aku lagi,mungkin capek,bingung,bosen atau,,marah.Aku tak sempat memikirkan itu.Aku hanya ga habis fikir mengapa Ramdan bisa senekat itu.Padahal dia bukan termasuk santri yang masuk buku hitam pondok.Itu adalah salah satu alasan mengapa aku memilih dia.Saat ini bukan karena aku ga mau bicara dengannya,tapi yang terlihat jelas di fikiranku sekarang hanya,”TO’AT  ZHOHIR THO’AT  BATHIN” yang terpampang dikawasan ponpes dan tertanam dalam di jiwa para santri sebagai pesan penting dari para dewan kyai yang telah terbukti dapan menjamin kesuksesan masa depan santrinya kelak.
                Tanpa sadar aku terus menggenggam erat ponselku hinnga sedikit lembab.Kulepaskan genggamanku ketika sebuah pesan masuk,dari Ramdan.
“Qolby,,rasa rindu yang meluap luap ini seakan membuat hatiku kan meledak, angkat Qolby..aku dah siap terima resikonya,aku siap di botak,justru aku bangga karena dengan itu semua orang akn tau bahwa cinta kita bener benar nyata”
                Ada rasa yang membuat dadaku semakin berat dan sesak,kurasa ini perasaan kecewa yang terus memancing emosiku,aku berusaha meredamnya dengan menarik nafas panjang seraya memejamkan mataku.Aku kecewa,aku kecewa karna ternyata dia sependapat dengan mereka dan tidak sependapat denganku.Aku berusaha tenangkan diri sedikit demi sedikit,mau ga mau aku harus membalas pesannya untuk hindari salah faham karna dibalik rasa kecewaku sungguh aku ga pernah berharap untuk kehilangan dirinya.Aku mencintainya,dan rasa cinta itu takkan hilang begitu saja hanya karna rasa kecewa.
“Akhi..walau tak terucap oleh lisan,tak nampak dilihat mata ,tapi hati mengerti bahwa kita satu rasa.Menapi beras 50kg itu tak sesulit melihatmu digundul dan dipermalukan,kau tau kenapa?karna ku takkan tega.Terlebih jika kita menjudulinya atas nama cinta.Aku rasa cinta suciku tak berada disana jadi ku takkan bangga.Akhi pasti ingat ‘ TO’AT ZHOHIR THO’AT BATHIN ‘ya kan?. Karna itu sungguh aku lebih rela menderita malarindu yang hanya bisa kucurahkan bersama tetesan air mata dalam sujudku.Aku pinta jangan hubungi aku lagi karna manusia tak semudah itu merasa puas dan bersyukur ,kecuali saat waktu itu tlah tiba . Akhi, setelah kembali ke pondok nanti aku akan ikror ke dewan kyai tentang sms ini  “
                Tak ada balasan darinya,aku tak tau pasti itu karna ia setuju atau karna dia marah atas keputusanku.

Ponpes Almusri’, 06 April 2007.
                Puluhan bulan kulalui dengan gumpalan gumpalan kerinduan yang sesakkan dada.Bukanlah hal mudah tuk terus berdiri di atas prinsipku tentang cinta dan peraturan di pondok ini.Setelah peristiwa sms itu,Ramdan tak pernah lagi menyapaku,bahkan saat kami berpapasanpun dia selalu memlingkan wajahnya,aku pernah mendapati ia tersenyum pahit saat memalingkan wajahnya dariku,sakit.Dan kini,aku semakin tersiksa karna dia seperti semakin tak mengharapkanku.Sekarang aku dan dia sudah kelas satu ma’had ‘aly.Dalam peraturan di ponpesku,kelas  satu MA itu adalah awal diperbolehkannya santri putra meresmikan hubungannya dengan wanita pilihannya sebagai ta’aruf awal mendekati khitbah.Tentu itu juga dengan sederet peraturan yang harus kita penuhi,dengan pengawasan keamanan tentunya.Saat itu kyai akan istkhoroh bagus atau tidaknya.Untuk santri putri,batas minimal adalah kelas 1 ‘aliyyah(3 kelas dibawah ma’had aly dan tiap kelas lamanya 6bulan)
Aku masih menunggu Ramdan,tapi saat ini Ramdan terlihat adem ayem saja,membuatku kecewa tuk yang kedua kalinya.Padahal sudah  belasan senior disini yang mengharapkanku dan aku menolaknya dengan alasan  yang beraneka ragam demi setiaku padanya.Entah ribuan bahkan jutaan air mata yang ku tumpahkan karna dia.Kini ku pasrah,kutitipkan rasa ini pada Allah,Rabbku dan Rabbnya. Karna hanya Dia yang bisa menyatukan aku dan Ramdan.Hanya dia yang Maha  Tau bagaimana perasaanku dan kondisiku tanpa Ramdan karna niatku menjaga cinta ini.Akhirnya,tumpukkan surat cinta tanpa penerima pun terlahir sebagai jalur tuk ungkapkan apa yang ku rasakan.Walau begitu,aku tetap bangga karena bagiku,inilah pengorbanan cinta.

Cisarua,03 Agustus 2008..
                “Sekarang aku mengerti maksudmu,,manusia memang amat sulit tuk merasa puas,aku sudah tau diri bahwa aku tak akan begitu saja merasa bersyukur dan terus merasa cukup  jika saat itu kau terus terima telfonku.Sekarang , disaat aku telah kelas 1MA,ingin sekali aku utarakan rasa ini,tapi ku urungkan niatku karna aku rasa ini  takkan mengobati , sebelum tiba saat dimana Allah mengamanati kamu padaku,agar ku bisa jaga lahir batinmu,beri perlindungan dan kehangatan dalam pelukanku.Agar ku bisa wujudkan senyummu.Buatmu tertawa manja padaku dan karenaku.Saat aku dipercaya menjadi imam(dalam keluaraga) yang ma’mumnya hanya kamu,,dan  anak anak kita.Dan terakhir,, saat dimana Allah menghendaki kita hidup bersama di syurgaNya. Va…. kau benar.Aku bangga mencintaimu.Dan lembaran lembaran yang terukir dari lautan tinta cinta ini adalah saksi cintaku padamu karena Allah.”
                Aktifitas membacaku terhenti karena tiba tiba seseorang memelukku lembut dari belakang.Setelah ku sadari siapa dia, aku tesenyum, ku genggam tangannya dan kusandarkan kepalaku di bahu kirinya. Seolah akalku tlah menyatu dengan tiap detak  jantungnya.Dia bebisik pelan,lembut terdengar di telingaku,”Allah tak sia siakan pengorbanan kita,sekarang semua itu bukan lagi hanya sebuah angan dan harap yang menggunung sejak tiga tahun lalu dan inilah akhirnya”.
Ya,kini aku dan Ramdan telah resmi menjadi sepasang suami istri.Semua berlangsung begitu cepat dan membuahkan berjuta keindahan.Aku bersyukur bisa berpacaran dengan Ramdan setelah aku resmi menjadi istrinya.
“ I LOVE U…” bisiknya
“ I LOVE U TOO..”
Suatu ketika, udin yang berprofesi sebagai santri disalah satu pondok di Jawa Timur menyembunyikan sandal sang Kyai.
Kyai: Anak-anak, mana sandal bapak..??
Udin: Disembunyiin Siti pak..!! Putri Kyai.
Kyai: Ambil Din.
(Udin langsung menemui Siti)
Udin : Aku disuruh pak Kyai untuk nyium kamu, boleh gak?
Siti: Gak boleh…!
Udin berteriak “Gak boleh bah…”
Kyai: Kasih nduk…!
Udin: Tuh, dengar sendiri kan?
Akhirnya Siti pun mau dicium pipi kanannya
Udin: Yang kiri lagi…?
Siti: Gak boleh…!
Udin teriak lagi “Yang kiri gak boleh bah…”
kyai: Berikan semuanya nduk…!
Udin: Muuuaaah… (nyium pipi Siti) Alhamdulillah…

Senin, 03 November 2014

KATA PENGANTAR

 Segala puji bagi ALLAH SWT AL-KHALIQ ,yang telah memberikan kesehatan jasmani dan rohani sampai kita bisa mencari ilmu dimanapun dan kapanpun kita mau
Tak lupa shalawat serta salam kita curah limpahkan kepada utusan ALLAH SWT yakni YA NABIYANA YA MULANA YA ROSULANA ,NABI MUHAMMAD SAW yang telah mengantar kita dari jaman jahiliyah sampai jaman tentram damai ini
Setiap manusia di hadirkan ke muka bumi ini dengan segala keunikan nya dan kekhasan nya masing-masing seiring bertambah nya umur semakin terbentuklah kualitas diri yang di dukung dari wilayah nya itu sendiri